Moeldoko Ingin TNI Digaris Depan Tumpas KKB Papua

0
47

JNOL, JAKARTA – Seorang anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia), Prajurit Kepala Nasrudin, tewas usai terlibat baku tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, pada Senin (28/1) siang.

Nasrudin tewas karena luka tembak di bagian perut.
Atas insiden itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menginginkan TNI dilibatkan penuh dalam operasi menumpas kelompok tersebut. Menurut Moeldoko, KKB harus dikategorikan sebagai separatis.

“Beda penanganannya kalau KKB masih ditangani kepolisian. Tapi kalau julukan berbeda (separatis) perlu tentara terlibat di dalamnya,” kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir JNOL Selasa (29/1).

Moeldoko menyatakan karena kelompok yang menginginkan kemerdekaan Papua itu masih disebut sebagai KKB, penanganannya masih di bawah Polri. Menurutnya, bila sudah disebut separatis maka TNI bisa diterjunkan di garis depan.
“Jangan bicara KKB, bicara separatis ya separatis, kita harus tegas,” ujarnya.

Moeldoko mengatakan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto juga sudah memberikan paparan dan menyebut perlu dilakukan evaluasi untuk menekan kelompok yang menginginkan kemerdekaan di Bumi Cendrawasih.

“Ini kalau persoalan ini didiamkan itu mesti ada upaya baru, model-model baru yang dikembangkan,” kata mantan Panglima TNI itu.
Selain Nasrudin yang tewas dalam baku tembak di sekitar Bandara Mapenduma, Kabupaten Nduga, Papua, seorang anggota TNI lainnya juga telah tewas ditembak di kawasan Longsran Baganbaga, Distrik Yambi, Kabupaten Puncak Jaya, pada Jumat (18/1).

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto : Istimewa

Namun demikian, dalam peristiwa tersebut, 4 hingga 5 anggota KKB diyakini tewas. Penyerangan KKB itu terjadi saat anggota TNI mendistribusikan logistik.

Di tengah kontak senjata antara KKB dan anggota TNI, The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyerahkan petisi referendum kemerdekaan Papua Barat yang sudah ditandatangani 1,8 juta orang kepada Ketua Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Michelle Bachelet.

ULMWP selama ini dikenal gencar memperjuangkan agar Papua merdeka dari Indonesia.

“Hari ini adalah hari bersejarah bagi saya dan rakyat saya. Saya telah menyerahkan apa yang saya anggap sebagai tulang rangka rakyat Papua Barat, karena telah banyak orang yang mati terbunuh,” kata Pemimpin ULMWP, Benny Wenda, di Genewa, Swiss, seperti dikutip Reuterspada Senin (28/1).

Benny mengatakan di bawah pemerintahan Indonesia, warga Papua tak memiliki kebebasan berpendapat, berekspresi, dan berkumpul.

Dia menganggap satu-satunya cara untuk mendapatkan kebebasan itu adalah melalui petisi ini yang ditandatangani oleh hampir tiga perempat orang dari total 2,5 juta rakyat Papua.

Dalam pertemuannya dengan Bachelet, WNI yang tengah mengasingkan diri di Inggris itu juga mengatakan keduanya sempat membicarakan situasi di wilayah Nduga, ketika 11 orang tewas saat melarikan diri dari TNI beberapa waktu lalu. Benny juga mengklaim setidaknya 22 ribu rakyat Papua terlantar. (*)

(fea/fea)

Sumber : cnnindonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here