Aparat Sita Buku Berbau PKI, Sejarawan : Buku itu Sudah Lama Terbit, Selama ini Tidak Masalah

0
104

Sejarawan dan peneliti senior dari Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Asvi Warman Adam, APU (Foto/mediaindonesia/ist)

(Foto/mediaindonesia/ist)

JNOL, Padang – Sejarawan dan peneliti senior dari Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Asvi Warman Adam, APU, menyesalkan penyitaan buku-buku yang dinilai berunsur PKI dan paham komunis yang dilakukan tim gabungan TNI, Polri, Kejaksaan Negeri, Pol PP, Kesbangpol di Kota Padang, Selasa (8/1/2019).

Salah satu buku dari lima judul buku yang disita aparat yang tergabung dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Padang, Sumatera Barat itu, ialah buku Kronik 65 yang diberi kata pengantar oleh Asvi Warman Adam.

“Saya berharap agar TNI dan aparat lainnya mengembalikan buku-buku itu ke toko buku atau membelinya. Buku Kronik 65 sudah lama terbit, dan selama ini tidak ada masalah di toko buku,” kata Asvi Warman Adam dilansir JNOL, Rabu (9/1/2019).

Menurut Asvi Warman Adam, buku yang berjudul lengkap Kronik ’65: catatan hari per hari peristiwa G30S sebelum hingga setelahnya (1963-1971), yang disusun sebuah tim penulis yang terdiri dari para mahasiswa lulusan S1 dan S2 sejarah di Yogyakarta.

“Saya menulis kata pengantar pada buku yang tebalnya sekitar 1.000 halaman tersebut. Jadi bukan saya yang menyusun atau penulisnya seperti ditulis dalam berita sebelumnya. Jadi ini sekalian koreksi. Buku itu disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan,” tambah sejarawan yang akan jadi pembicara seminar nasional dalam kegiatan “Mengenang 70 Tahun Chatib Sulaiman”, pada 19 Januari 2019 di Padang.

Ia katakan, buku Kronik ’65 merupakan kronologi peristiwa yang terjadi di Tanah Air dari tahun 1963-1971. Sumbernya dari berbagai koran yang terbit era itu di Indonesia.

“Buku Itu untuk mengetahui tentang Peristiwa G30S, prolog (sebelumnya) dan epilog (sesudahnya). Itu jadi bahan yang dikumpulkam dengan metodologi sejarah yang bisa bermanfaat bagi penulis tentang terkait Peristiwa ‘65. Kronologi selama 24 jam tanggal 30 Septembar 1965. Ini membantu orang yang meneliti Peristiwa ’65 dengan bahan mentah yang cukup lengkap pada satu buku,” jelasnya.

Selain itu, penyitaan buku-buku tentang Sukarno yang dilakukan Forkopimda Kota Padang, dinilainya aneh dan sekaligus ia mempertanyakan apa maksud penyitaan itu.

“Yang aneh juga buku tentang Sukarno juga disita. Apa maksudnya? Padahal buku tentang Sukarno itu diluncurkan oleh Megawati Soekarnoputri dan Jenderal (Purn) Try Sutrisno,” tegasnya.

BACA: Tim Gabungan di Padang Sita 5 Judul Buku Berunsur PKI

BACA: Penyitaan Buku Berunsur PKI di Padang, Pemilik Toko Buku Sempat Perang Mulut dengan Aparat

Pada Selasa (8/1/2019) sejumlah buku yang dinilai beunsur PKI dan berbau komunis di Toko Buku Nagare Boshi, Jalan Hos Cokroaminoto No 13, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang-Sumbar, disita tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Kejaksaan Negeri, Pol PP, dan Kesbangpol.

Dalam penyitaan itu, aparat mengamankan 5 judul buku, Kronik 65 (penyusan Kuncoro Hadi dan kawan-kawan), Jas Merah (penulis Wirianto Sumartono), Mengincar Bung Besar-Tujuh Upaya Pembunuhan Presiden Sukarno (penulis Tim Historia), Anak-anak Revolusi (penulis Budiman Sujadtmiko), dan Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto (penulis Salim Said).

“Kita amankan dulu, karena ini ada unsur PKI-nya. PKI sudah jelas dilarang,” kata Danramil 01 Padang Barat-Padang Utara Mayor Inf Parningotan Simbolon.

“Saya tidak bisa memberikan keterangan secara benar. Tapi ini buku-buku sudah jelas judulnya tentang PKI, sementara di Indonesia PKI itu tidak diperbolehkan. Sekarang oknum-oknumnya ini sudah mengibarkan fitnah-fitnah,” tambah Parningotan Simbolon.

Dikatakannya, buku yang disita mengalami perubahan antara judul di kulit muka buku dan isi di dalam buku. Menurutnya, isi dalam buku telah diubah dari yang sebenarnya.

“Di luar dan di dalam buku beda, seperti sudah diubah, makanya kami amankan ke Kodim. Selanjutnya penerbit buku juga akan kami panggil ke Kodim,” ujarnya.

Parningotan Simbolon menegaskan apapun yang terkait dengan unsur PKI sangat dilarang. Setelah ini, pihaknya juga akan melakukan cross-check ke toko buku lainnya yang terindikasi menjual buku yang sama.

“Untuk di toko, ini baru pertama kita lakukan penyitaan,” tambahnya.

Sementara itu, Kasi Intel Pejaksaan Negeri Padang, Yuni Hariaman mengatakan, penyitaan dilakukan setelah adanya hasil peninjauan aparat TNI.

“Terhadap buku yang disita, tim akan melakukan penelitian terhadap kebenarannya,” kata Yuni Hariaman.

Di kejaksaan sendiri, tambahnya, sudah ada pendataan jenis atau pun judul buku yang terlarang tapi beredar di pasaran.

“Kita amankan untuk diteliti isinya, baru kita laporkan berjenjang,” jelasnya. (SSC/sumbarsatu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here