Rintihan Muslim Uighur, Semakin Pertegas Umat Butuh Khilafah

0
16

JNOL – Otak mendidih, hati berkecamuk, bernafaspun terasa sakit menyaksikan penistaan yang dilakukan oleh pemerintahan China terhadap Muslim Uighur. Lebih dari 1 juta Muslim Uighur dikurung di kamp konsentrasi dan diperlakukan tidak manusiawi, dipaksa makan babi, minum alkohol, nama berbau Islam diancam tidak mendapatkan pekerjaan, menyita Al-Qur’an dan simbol-simbol Islam, melarang anak-anak belajar agama Islam, Masjid diharuskan mengibarkan bendera China dan spanduk yang berslogan komunisme, mencopot kaligrafi bendera tauhid, melarang sholat, memotong gaun panjang Muslimah di tengah jalan dan segala penistaan lainnya telah nyata dilakukan oleh pemerintahan China dengan sadisnya.

Sementara di Turkistan Timur 60 ribu guru agama dan ulama dibuang dengan tuduhan ekstremisme. Perlakuan yang tak pernah dilakukan binatangpun dilakukan oleh pemerintahan China atas kaum Muslimin dengan membunuh ribuan bayi yang masih dalam rahim ibunya dan perempuan Uighur dipaksa menikah dengan Tionghoa atheis.

Belum usai genosida (pembunuhan secara massal) terhadap Muslim di Yaman, Rohingya, Suriah dan Palestina. Kini terjadi lagi genosida di Xinjiang-China menimpa Uighur yang merana.

Benarlah firman Allah SWT :

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialahorang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. Al Ma’idah : 82).

Begitu juga dengan FirmanNya dalam surat yang lain :

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.
(QS. Al Baqarah : 217).

Allah SWT telah memperingatkan pada kaum Muslimin bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti memerangi kaum Muslimin. Ini seharusnya membuka lebar-lebar mata kepala kaum Muslimin untuk merenungkan dan memahami kebenaran firman Allah SWT tersebut. Sayangnya, masih banyak kalangan yang menilai tindakan sadis ini merupakan masalah kemanusiaan, pelanggaran terhadap HAM. Padahal masalah ini bukan sekadar masalah kemanusiaan, namun ini terletak pada tidak terbendungnya kebencian kaum Kafir terhadap kaum Muslimin.

/Sikap Pemerintahan Indonesia sebagai Muslim Terbesar/

Pemerintah Indonesia terkesan diam dan tidak tegas terhadap penistaan yang dilakukan, menunjukkan adanya ketergantungan pemerintah terhadap negeri tirai bambu yang dipimpin oleh presiden Xi Jinping tersebut. Terbaca dari pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla yang menyatakan dengan entengnya “Tentu kita tidak ingin campuri masalah domestik Uighur. Tapi secara umum pelanggaran hak asasi manusia juga harus kita perjuangkan”. (Republika,18/12/18).

Langkah yang ditempuh oleh pemerintahan Indonesia hanya dengan meminta keterangan peristiwa kepada dubes Indonesia di China. Langkah soft diplomacy ini untuk menghindari pertikaian pemerintah China yang akan merugikan ekonomi Indonesia, yakni embargo.

Merujuk pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari China pada periode Januari-September 2018 mencapai USD1,8 miliar. Ketergantungan Indonesia terhadap China menunjukkan kuatnya cengkeraman China atas Indonesia. Padahal realisasi investasi merupakan bentuk penjajahan ekonomi yang tanpa disadari telah menghantarkan Indonesia ke jurang kehancuran karena telah bergantung pada investasi asing dan utang luar negeri terkhusus China.

Ancaman embargo China sebenarnya hanya gertakan dan cara picik negara komunis ini untuk menakut-nakuti Indonesia. Jika kita mau berpikir ulang, embargo tidak akan pernah dilakukan oleh negara manapun terhadap Indonesia. Justru ketika Indonesia di embargo oleh negara lain, akan merugikan negara-negara tersebut dan menguntungkan Indonesia. Dengan segala kekayaan geografis, letak demografi yang cukup strategis, kekayaan alam yang melimpah ruah, hutan, laut, sumber daya alam hayati lainnya, belum lagi kekayaan tambang yang dimiliki Indonesia sangat cukup membuat Indonesia tidak bergantung dengan negara-negara lain. Justru negara lain lah yang bergantung. Namun pemikiran ini tidak dimiliki oleh komponen masyarakat kita apalagi yang menjabat. Mereka sudah terkena virus pemikiran asing yang mencekoki. Kafir penjajah telah berhasil memenangi ghozul fikri (perang pemikiran) melalui penjajahan pemikiran atas kaum Muslimin dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran sesatnya seperti demokrasi, HAM, nasionalisme, liberalisme dan sebagainya. Begitu juga dengan kebijakan ekonomi neolib dan politik neoimperialisme yang digulirkan, jadilah kaum Muslimin terpapar dengan pemikiran-pemikiran sesat dan terjebak dengan berbagai kebijakan tersebut. Kaum Muslimin menjadi lemah, tak berdaya menghadapi serangan dari kafir penjajah baik dari segi penjajahan fisik maupun nonfisik yang berupa pemikiran, ekonomi, budaya dan aqidahnya.

/Umat Butuh Khilafah/

Indonesia adalah negeri Muslim terbesar dibanding negeri lainnya, sudah sepatutnya memiliki keberanian dan kekuatan untuk melawan segala bentuk penjajahan. Penindasan terhadap Muslim Uighur hendaknya disikapi sesuai dengan aqidah Islam. Masalah ini bukan sekadar masalah internal Muslim Uighur justru ini adalah masalah kaum Muslimin seluruhnya.

Allah SWT berfirman :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌفَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujurat: 10).

Namun untuk menolong saudara-saudara Muslim Uighur yang diperlakukan secara keji oleh pemerintahan China tidak cukup hanya diperankan oleh individu, kelompok ataupun komunitas kaum Muslimin saja. Begitu juga masalah ini tidak bisa selesai dengan jalan diplomasi, perundingan atau hanya memberikan kecaman, hujatan dari negara-negara OKI, apalagi berharap pada PBB yang notabenenya lembaga kufur yang condong didominasi oleh negara-negara kapitalis dunia. Tapi harus lebih dari itu, harus ada negara yang mengakomodir perlawanan terhadap penistaan ini yaitu negara Islam (Khilafah).

Khilafah akan mengakomodir kekuatan militernya dengan berjihad melawan genosida (pembunuhan massal) yang dilakukan oleh negara-negara kafir baik kapitalis maupun kafir komunis. Khilafah akan membuang jauh-jauh sekat nasionalisme yang membuat negeri-negeri Muslim tercerai-berai. Nasionalisme telah menghilangkan kepedulian satu negeri Muslim terhadap negeri Muslim lainnya. Menganggap bukan urusannya, bukan masalah negerinya. Negeri – negeri Muslim telah disibukkan dengan masalah dalam negerinya masing-masing sehingga abai pada negeri Muslim lainnya padahal sejatinya seluruh kaum Muslimin di belahan negeri manapun adalah satu.

Dari sinilah pentingnya Khilafah yang akan menyatukan seluruh negeri-negeri Muslim sedunia dibawah satu komando pemimpin Islam yang bernama Khalifah. Hanya dengan pemerintahan Islam (Khilafah) saja rintihan kaum Muslimin Palestina, Suriah, Yaman, Rohingya, Pattani, Moro termasuk Uighur bisa dihentikan. Karena Khilafah adalah benteng, perisai tempat kaum Muslimin berlindung. (*)

Wallahu A’lam bisshawab.

Oleh : Ucie Siregar

(Aktivis Muslimah Peduli Negeri-Banda Aceh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here