Kunjungan Jokowi Bukti Aceh Provinsi Spesial Bagi Sang Presiden

0
15

Ket Gambar : Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama Ketua DPD PDIP Sumatera Utara Japorman Saragih, Sekretaris DPD PDIP Soetarto, dan caleg DPR-RI Ramond Dony Adam. [Foto/Ist]

JNOL, Jakarta – Kehadiran Presiden Jokowi ke Aceh mendapat respons positif dari masyarakat, tokoh, dan ulama. Banyak makna yang tersirat dari kunjungan ke wilayah ujung barat nusantara itu.

Calon Anggota DPR RI PDI Perjuangan Dapil Aceh I, Ramond Dony Adam menegaskan, ketika Jokowi meresmikan pembangunan jalan tol Trans-Sumatera di wilayah Aceh, semua pihak harus mengakui kerja nyata pemerintahan Jokowi dalam membangun Indonesia secara merata, khususnya dalam memajukan provinsi Aceh.

Dituturkan Ramond, sebelum melakukan peletakan batu pertama pembangunan jalan tol, Presiden terlebih dahulu bertemu para ulama kharismatik Aceh. Dalam pertemuan itu, dibahas soal RUU Pesantren yang mendapat apresiasi para ulama di Aceh.

“Lagi-lagi ini membuktikan bahwa isu anti-ulama dan anti-Islam yang seringkali diarahkan kepada Pak Jokowi dan PDIP sama sekali tak benar,” jelas Ramond.

Sebagai caleg dari dapil Aceh I, Ramond mengaku tahu benar kondisi gawatnya isu dan kebohongan bernada SARA yang diarahkan kepada Jokowi di masyarakat. Isu dan fitnah sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang ingin memperoleh simpati dengan menghalalkan segala cara.

Padahal faktanya, lanjur Ramond, ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, yang menjadi wakil presiden adalah seorang ulama asal PPP, Hamzah Haz. Dan di pemilu 2004, Ibu Megawati maju sebagai capres bergandengan dengan ulama NU KH Hasyim Muzadi sebagai cawapresnya.

“Ini kan bukti yang sangat nyata, bahwa baik PDIP maupun Presiden Jokowi, betul-betul serius membangun negeri berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Kebhinekaan, dan NKRI, dengan tak melihat asal sukunya, agamanya, dan rasnya,” jelas Ramond.

Ia juga mengingatkan bahwa baru pada masa pemerintahan Megawati untuk pertama kalinya provinsi NAD menjalankan syariat Islam seutuhnya lewat pemberian otonomi khusus. Hal itu tertuang dalam UU Nomor 18 tahun 2001.

“Kami menyerukan, sudah saatnya hentikan yang namanya menyebarkan berita hoaks, apalagi dengan membawa-bawa isu agama. Buat saya pribadi saya sangat sepakat jika agama dijadikan landasan dalam berpolitik. Namun janganlah agama dijadikan alat pemuas nafsu politiknya sementara untuk merebut kekuasaan,” kata Ramond.

Pada bagian akhir, Ramond berdoa semoga kedatangan Presiden Jokowi di Aceh dapat membawa angin sejuk dan damai serta pemahaman positif. “Sebagaimana kita ketahui, peran ulama sangat dibutuhkan sebagai pilar pemersatu bangsa dan negara ini,” tuntas Ramond. [MI/Daulat.co]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here