Perang Urat Saraf di Era Digital

0
11

JNOL | Dunia yang semakin tak terbatas akibat globalisasi dimana setiap individu dibelahan dunia manapun bisa saling mengakses tanpa dibatasi ruang dan waktu. Karena kita yang di Indonesia bisa melihat perilaku dan aktifitas individu lainnya di negara lain. Hal itu disebabkan oleh pengaruh besar media sosial yang saat ini menjadi kekuatan baru dalam peradaban dunia modern.

Dalam data yang diluncurkan oleh We Are Social dan Hootsuite mencatat penduduk bumi yang telah terkoneksi dengan internet pada 2018 mencapai empat miliar dibanding posisi 2014 baru mencapai 2,4 miliar orang. Angka tersebut menunjukkan tingkat penetrasi internet telah mencapai 52,96% dari total populasi dunia yang mencapai 7,59 miliar jiwa. Pada 2014, penetrasi internet global baru mencapai 35% dari total populasi. Data ini menunjukkan bahwa hampir separuh penduduk dunia menggunakan internet dan penggunaan terbanyak dalam sektor internet ialah media sosial. Karena media sosial tempat berkumpul jutaan individu dari berbagai penjuru dunia.

Bila merujuk dari data diatas tak ayal bila setiap individu berusaha saling mendominasi dan mempengaruhi individu lainnya dengan kekuatan media sosial. Merasuk kedalam pikiran serta mampu mengarahkan pikiran dari tiap individu. Disinilah yang disebut dengan Perang Urat Saraf. Bila di era peperangan dahulu baik di era Perang Dunia 1 hingga Perang Dunia 2, cara cara menguasai masih bersifat tradisional berupa fisik dan invasi agar tercapainya suatu tujuan.

Barulah di Era Perang dingin mulai perjalanan dimana setiap negara saling menakut-nakuti dengan kekuatan senjata yang canggih. Antara Uni Soviet dan USA saling berlomba-lomba membuat senjata canggih. Berbeda di era digital seperti saat ini, perang lebih bersifat hybrid antara perang fisik dan perang non fisik dan cepat dengan menggunakan kekuatan media sosial menjadi andalan sebagai senjata utama dalam memenangi suatu peperangan, yang disebut dengan Era Perang Urat Saraf.
Secara Definisi Perang Urat Saraf menurut William E Dauherty dan Morris Janowitz yang dikemukakan dalam bukunya berjudul A Psychological Warface Casebook, mengungkapkan bahwa Perang Uraf Saraf digunakan secara berencana dalam bentuk propaganda dan kegiatan kegiatan lainnya yang di rencanakan untuk mempengaruhi pendapat, emosi, sikap dan perilaku pihak musuh, pihak netral dan pihak kelompok asing yang bersahabat dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dan tujuan.
Di era digital saat ini perang urat saraf memiliki peranan penting dalam terjadinya perubahan dinamika sosial. Salah satu studi kasusnya ialah proses terjadinya Arab Spring, dimana peristiwa ini diledakkan oleh kicau-kicauan kecil di media sosial (twitter & facebook) yang berdampak kepada gejolak akibat kicau-kicauan yang bising tersebut. Karena secara filosofis twitter itu gambarnya burung, untuk menunjukkan kicauan itu bising, mempengaruhi psikologis seseorang dan bisa mengajak individu lainnya untuk melakukan perubahan sosial secara bersama. Akibat dari media sosial itulah muncullah peristiwa Arab Spring, turunnya Ben Ali dari tampuk kekuasaannya sebagai Presiden Tunisia dan Husni Mubarak sebagai Presiden Mesir.

Perang Urat Saraf dapat dikategorikan sebagai bagian dari perubahan sosial, seperti yang diungkapkan Joseph himes (1967) tentang Faktor Tecnological Determinism, salah satunya ialah perang urat saraf ini tercipta akibat perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Perkembangan teknologi antara lain meneybabkan timbulnya peranan-peranan baru yang menuntut cara dan pandangan hidup yang baru, yang apabila diikuti oleh banyak anggota masyarakat akan melembaga sebagai orientasi nilai budaya bagi masyarakat.

Perang Urat Saraf ini cara paling ampuh untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Tapi pada akhirnya jika ekskalasi konflik di udara semakin tinggi kerap terjadi bentrok fisik di darat. Sehingga selain meninggalkan luka di dalam jiwa bahkan mengakibatkan korban jiwa. Selain itu tujuannya dari perang urat saraf ini ialah suatu bentuk usaha untuk melemahkan kekuatan lawan dengan langsung menyerang psikologisnya dan membuat lawan tak berdaya, sehingga lawan tidak mampu lagi melawan. Inilah yang mesti diwaspadai oleh kita sebagai Bangsa Indonesia jangan sampai terpengaruh dengan berbagai macam perang urat saraf yang membuat kita takut dan bisa mengancam kepada disintegritas bangsa.

Dalam kaitannya dengan situasi politik nasional saat ini, perang urat saraf juga menjadi senjata ampuh dalam menyebarkan provokasi dengan tujuan menyebarkan ketakutan-ketakutan melalui berbagai macam opini yang pada aslinya hal tersebut berlangsung damai dan biasa saja. Tapi yang lebih bahayanya lagi ialah melakukan propaganda yang bertujuan untuk menebar kebencian secara massif karena akibat dari perbedaan pilihan dalam sebuah kontestasi politik, konflik ideologi, issue agama dan sara. Apabila hal tersebut justru dibiarkan akan semakin membuat kita jauh dari rasa persatuan.

Sebagai contoh kasus perang urat saraf yang terjadi faktual saat ini di Indonesia, ketika terjadi peristiwa penembakan puluhan orang pekerja di Papua oleh para separatis. Dalam waktu yang bersamaan ada penyebaran opini untuk membongkar kasus pelanggaran HAM di Papua oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hal tersebut bagian dari perang urat saraf, menganggu konsentrasi pemerintah Indonesia, dan menaikkan moral OPM. Situasi ini mencoba membuat situasi Indonesia lemah di mata internasional.
Pada dasarnya perang urat saraf ini ialah suatu kemampuan special seseorang yang mampu bertahan dalam situasi dan kondisi saat ini. Dibutuhkan individu-individu yang tahan banting, dan mampu membuat narasi dalam menghadapi sebuah pertarungan digital. Jangan sampai terbawa arus, dari sebuah narasi lain yang dijalankan. Sehingga kita terseret dalam sebuah arus narasi tersebut, pada akhirnya membuat kita lemah dan tak berdaya. Karena inti dari perang urat saraf inilah siapa yang paling tahan menderita dialah yang mampu memenangkan pertarungan. (*)

Oleh : Muhammad Sutisna (Anak Muda NU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here