Kemendikbud Sebut Dihidupkannya PMP Bagian dari Nawa Cita

0
49

(Istimewa)

JNOL, Jakarta | Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengklaim wacana penghidupan kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), adalah bagian dari Nawa Cita. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Supriano mengatakan keberadaan wacana ini juga tak lepas dari keresahan masyarakat.

“Nawa Cita itu kan salah satunya adalah Revolusi Mental,” tutur Supriano di Gedung D Kemenrisetdikti Lt. 11, Rabu (28/11).

Supriano mengatakan, isu radikalisme dan intoleransi telah membuat masyarakat. Kemendikbud, kata dia, pun sering turun langsung menemui guru dan siswa, menurut Supriano banyak dari guru-guru yang mengatakan Pancasila sudah mulai redup. Atas dasar itulah pihaknya berusaha menghidupkan kembali pancasila dan akan lebih fokus terhadap pembentukan pembelajaran pancasila bagi para siswa.

“How nya itu kan Pancasila. Maka dari itu, bapak Jusuf Kalla mengatakan ini adalah contoh yang harus diperbanyak. Ke depan materi Pancasila ini kita akan kasih contoh-contoh,” tutur Supriano.

Mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sendiri sudah diajarkan sejak tahun 1975. Namun, mata pelajaran PMP diubah lagi pada tahun 1994 menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan pada masa Reformasi PPKn diubah menjadi PKn dengan menghilangkan kata Pancasila.

PMP berisi materi Pancasila sebagaimana diuraikan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau dikenal juga dengan sebutan P4.

Supriano memastikan PMP yang diwacanakan akan kembali dipelajari ini nantinya tak hanya sekadar ilmu hafalan bagi siswa sekolah, tetapi harus juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya, Ketua MPR, Zulkifli Hasan mengatakan wacana dihidupkannya lagi PMP bagus untuk menghidupkan lagi nilai pancasila sebagai sebuah ideologi. “Saya setuju. Metodenya yang harus disesuaikan dengan sekarang,” kata Zulkifli di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (27/11).

Zul menganggap saat ini siswa telah kehilangan pelajaran Pancasila maupun Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang dulu sempat diajarkan saat era Orde Baru. Padahal, kata dia, Pancasila sebagai ideologi harus diajarkan secara kuat dan mengakar.

“Sekarang ini hilang. Kalau tidak ada, tentu mereka akan mencari yang lain,” kata ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

[MI/djitonews.com]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here