ANTARA REZIM ‘ALPATEKAH’ DAN KIYAI ‘PANITIA’

0
170

(ist/Ilustrasi)

Oleh : Nasrudin Joha

JNOL| Miris, melihat kerusakan demi kerusakan ditampakkan di negeri ini. Dari bencana alam sampai bencana akidah. Dari soal ekonomi hingga soal politik, hukum dan soal sosial masyarakat.

Setelah heboh ujaran ‘lakalawalakatailabila’ kini publik dikejutkan dengan ungkapan ‘alpatekah’. Belum lekang heboh alpatekah, kini umat Islam semakin miris dengan fatwa ulama yang tunduk pada panitia, bukan pada Al quran dan AS sunnah.

Seorang atlet muslimah berhijab, menolak menanggalkan hijab karena terikat dengan syariat. Seraya memilih didiskualifikasi panitia ketimbang didiskualifikasi sebagai hamba yang taat.

Seorang Muslimah yang memilih pilihan kemuliaan dengan tetap mempertahankan mahkota kesucian, ketimbang menanggalkannya demi sebuah ilusi medali yang tak memberi derajat diri berupa tambahan kebajikan dihadapan Illahi rabbi. Seorang Mukminah sejati, yang tak takut celaan orang yang suka mencela, dan tak berharap pujian karena menggendong piala. Seorang Muslimah yang telah mengambil pilihan kampung akhirat, ketimbang dunia yang serba fana.

Celakanya, sikap mulia ini bukannya di bela malah disayangkan. Bukannya mendakwa panitia, justru sang muslimah yang diminta taat pada aturan panitia. Seorang Kiyai, yang perlahan sehasta demi sehasta meninggalkan kehangatan kaumnya. Merapat pada pencela dan para penista agama.

Bagaimana mungkin ketaatan seorang muslimah justru yang dipersoalkan ? bagaimana bisa seorang ulama justru tunduk pada fatwa panitia ? Bukankah ulama itu pewaris para Nabi ? Bukankah nabi mewariskan Al Quran dan menyeru taat terhadapnya ? Apakah ada seruan ketaatan pada panitia ?

Perlahan, Allah SWT buka aib setiap hamba secara terbuka. Jika Allah hendak membuka aib, Kemana hamba akan mempertontonkan kemuliaan ? Jika Allah SWT berkehendak menghinakan manusia, akankah berguna berlindung dibalik kekuatan manusia ?

Sungguh tahun-tahun pemurnian ini benar-benar memisahkan mana ulama sejati dan mana ulama imitasi. Umat dapat mengindera secara jelas, Kemana akan melabuhkan pilihan dan kepercayaan.

Wahai diri, berhati-hatilah atas fitnah dunia, yang bisa datang dari harta, benda, kedudukan, wanita bahkan label ulama. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan diri, kecuali ketaatan penuh pada ilahi rabbi. Tegarlah menapaki jalan, luruslah dalam menghadapi tentangan, tetaplah berjalan diatas titian yang telah dipilih para Rasul dan Ambiya.

Rezim represif anti Islam ini, semakin lama semakin tegas mengumumkan diri sebagai entitas yang menyelisihi Islam. Tetaplah sabar dan terus Istiqomah dalam perjuangan, InsyaAllah dengan satu pukulan telak, rezim ini pasti jatuh dan tersungkur.

Bersiaplah, untuk mengumandangkan takbir kemenangan. Menyambut kejatuhan tirani, mengubur setiap kesombongan dan membuang sejarah kelam penindasan.

Saling berwasiatlah, kalian tidak akan pernah rehat sebelum rezim ini menyerah atau dengan terpaksa mengumumkan kekalahan. Tidak ada pilihan, rezim ini kalah atau kalian yang mengibarkan bendera kemenangan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here