HMI Komisariat Al Batutah Adakan Diskusi Leadership di Era Milenial

0
149

JEJAKNASIONALIS.COM, SIDOARJO – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya, Komisariat Al Batutah, mengadakan agenda kegiatan Diskusi Mahasiswa dengan tema Leadership: Membentuk Jiwa Kepemimpinan di Era Milenial. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran atau edukasi bagaimana cara menjadi pribadi yang unggul dalam organisasi, serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang kelak akan membuat individu menjadi seorang problem solver pada masyarakat nanti.

Diskusi Mahasiswa ini diadakan di Gedung Serbaguna RW 8 Perumahan Mega Asri Larangan Sidoarjo. Acara ini dibuka untuk Mahasiswa Umum yang kebanyakan dihadiri dari Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan beberapa orang dari Universitas lain salah satunya dari Universitas Airlangga.

Pemateri dalam kegiatan ini adalah dua orang yang lama berkecimpung pada organisasi: HMI dan BEM Universitas. 

Pemateri pertama adalah Ichlasul Akmal Winata yang akrab dipanggil Kanda Winata, yang kini telah sukses menjadi pengusaha properti yang memiliki 4 (empat) perusahaan dengan aset mencapai puluhan milyar. 

Kemudian, pemateri kedua adalah Ahmad Noor Fuadi atau Kanda Fuad mantan Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tahun periode 2017-2018 dan sedang menjabat Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Surabaya periode 2018-2019.

Acara dimulai dengan pemaparan Moderator (Muhammad Ruji) dengan menyinggung tentang warisan demografi di Indonesia. 

Menurutnya, dengan jumlah penduduk lebih dari 220 jt orang membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan penduduk terbanyak. Ia mengatakan warisan demografi itu membuat tantangan tersendiri bagi Mahasiswa yang kelak akan lulus nanti. 

Mahasiswa diharuskan berani dalam bersaing untuk menjadi pribadi yg unggul, kreatif dan inovatif. Tidak hanya itu, Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap persoalan yg melanda pada masyarakat dan berperan aktif serta bersungguh-sungguh membangun dalam negeri.

Kanda Winata menceritakan bahwa dirinya ketika menjadi mahasiswa dahulu turut aktif dalam organisasi. Dirinya juga sering mengikuti lomba karya tulis ilmiah sejak masih SMA, hingga waktu masih di Universitas Airlangga (UNAIR) prodi Ekonomi Islam.

Menurutnya, penting untuk meningkatkan kemampuan akademik, dan menggunakan masa muda untuk mencari prestasi dan pengalaman sesuai dengan minat-bakat dan potensi diri.

Hal lain yang disampaikan kanda Winata adalah cerita masa-masa ketika ia memulai berbisnis properti, dirinya bercerita bahwa ia memulai bisnis dimulai dari nol. Sempat mendapat cibiran dari tetangganya karena telah mendapat gelar S2 tetapi tiba-tiba menjadi kuli. 

“Saya dulu memulai bisnis properti ikut terjun menjadi seorang kuli, bahkan ada tetangga saya mencibir punya gelar S2 kok menjadi kuli” tutur kanda Winata. Jumat, (05/10).

Namun dengan usaha keras akhirnya ia bisa sukses seperti sekarang dengan omset perusahan mencapai 2 Milliar per tahun.

Kemudian Kanda Fuad sebagai pemateri kedua menjelaskan pentingnya berorganisasi. Dirinya sebagai mantan Presiden Mahasiswa UNESA sangat merasakan manfaat berorganisasi.

Ia menjelaskan keuntungan berorganisasi ialah meningkatkan kapasitas individu, antara lain: meningkatkan jiwa kepemimpinan, meningkatkan daya mental, dan olah pikir. 

Tidak hanya itu, ketika di organisasi setiap individu akan membuat banyak kontak dengan individu lain sehingga kemudian dapat belajar menjadi seorang organisatoris, dan lebih banyak memahami karakter orang orang lain, yang nantinya dibutuhkan ketika berada di tengah-tengah masyarakat.

Banyak tantangan sebenarnya jika melihat bermacam-macam persoalan yang hadir dimasyarakat Indonesia. Tentang memahami orang lain dan kepekaan individu terhadap lingkungan yang dianggap kurang, bahkan di era sekarang ini banyak dimanjakan teknologi sehingga melahirkan sikap-sikap apatis. 

Kanda Fuad berkata “Individu yang mengikuti organiasasi adalah orang-orang yang memiliki kepekaan yang tinggi.” Di organisasi itulah seorang individu akan belajar memahami orang lain, memahami masyarakatnya, dan lingkungannya agar mereka dapat menjawab berbagai tantangan dan persoalan di negeri ini kelak.

Salah seorang peserta diskusi, Zulfa Ihzani (Mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Muhammadiyah Sidoarjo) bertanya kepada pemateri tentang pentingnya IPK ketika keluar dari dunia kampus.

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Kanda Fuad, dan ia juga mengkritik mahasiswa yang dikampus hanya mengejar sebuah nilai. Mereka yang hanya fokus pada mata kuliah tidak akan merasakan asyiknya berorganiasi, tidak merasakan tantangan dan masalah yg telah menjadi kultural dalam organisasi sehingga kampus hanya memenjarakan mereka. Padahal banyak yang bisa digali di organisasi yang manfaatnya untuk meningkatkan kapasitas individu masing-masing. (dwi/ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here