Cerdas di Era Digital Cermin Generasi Millennial

0
197

Ket Gambar : Era Millenial/Ilustrasi/Ist

Oleh : Ilham Sofyan

JNOL | Usia muda merupakan fase terbaik dalam menjalani segala proses di berbagai bidang. Kondisi fisik dan daya fikir yang sudah cakap sangat mendukung dalam menjalani proses pada fase ini. Tetapi emosi dan ego yang belum stabil menjadi tantangan tersendiri untuk generasi muda dalam berproses. Berbagai pengaruh dari dalam maupun luar sangat mudah masuk. Hal itulah yang menjadi permasalahan serius dari waktu ke waktu yang dialami oleh anak muda. Salah satunya pengaruh kemajuan teknologi.

Tidak dipungkiri teknologi telah berkembang pesat. Berbagai dampak dapat dirasakan terutama bagi generasi muda. Tidak sedikit anak- anak muda yang sampai terperdaya, bahkan menjadi budak teknologi. Kebanyakan bahkan tidak sadar dan merasa nyaman akan hal itu, tanpa memikirkan dampaknya terhadap diri sendiri maupun lingkungan disekitarnya.

Terkadang orang yang memiliki rasionalitas, malah menggunakan teknologi untuk tidakan- tindakan yang tidak benar (kriminalitas). Idealisme merupakan suatu pegangan yang harus dimiliki oleh setiap individu terutama generasi muda. Bangsa Indonesia masih mengalami permasalahan yang sangat kompleks dan menunggu untuk diselesaikan.
Tujuan Intensif untuk Negara
Dalam bertindak, terutama untuk memaksimalkan potensi generasi muda berkontribusi dalam pembangunan negara, langkah awal yang harus dilakukan yaitu menentukan tujuan. Sebuah proses dapat berjalan sistematis dengan acuan tujuan yang telah ditentukan. Banyak sekali orang yang sedang merintis dalam hal apaun lalai terhadap tujuannya, sehingga dalam bertindak pun masih banyak kerancauan sampai bertolak belakang dengan tujuan yang akan dicapainya. Ambisi dan tekad yang kecil salah satu penyebabnya. Tujuan besar dan mulia bisa saja hilang karena ego dan kepuasan batin semata, yang banyak dialami oleh generasi muda sekarang.
Untuk dapat berkontribusi dalam pembangunan negara, generasi muda harus kritis menganalisis fenomena yang ada dalam lingkup masyarakat maupun pemerintahan. Setelah semua itu tercapai, hal- hal yang sangat dibutuhkan akan ditemukan. Akhirnya kemauan seseorang akan diuji, apakah berani terjun dalam sebuah permasalahan dengan maksud mendapatkan solusi atau diam dengan berpura- pura tidak memiliki tanggung jawab.

Sebagai contoh ketika Pilkada 27 Juni kemarin, KPU menyatakan jumlah partisipasi pemilih tidak mencapai angka 75 persen dari seluruh penduduk Indonesia yang mempunyai hak memilih. Terlebih 49 persen angka golput didominasi oleh lansia dan anak muda (18 – 30 tahun). Laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah populasi penduduk indonesia mencapai 262 juta orang, 143 juta menjadi pengguna internet aktif sepanjang 2017 dan 49,52 persen penggunanya merupakan anak- anak muda (19 – 34 th).

Dengan dukungan teknologi yang tinggi seharusnya generasi muda lebih mudah dalam menggapai informasi, terutama mengenai pentingnya menggunakan hak suara mereka. Berberpartisipasi dalam Pilkada berarti ikut berkontribusi dalam membangun negara Indonesia.
Teknologi sebagai Senjata Progresif bagi Negara Kecanggihan teknologi menimbulkan dampak yang sangat signifikan, salah satunya yaitu budaya Digital. Terutama masyarakat urban yang melek teknologi. Tidak berhenti, masyarakat desa pun mulai terpengaruh dengan budaya itu. Fenomena ini wajar dan tidak dapat dihilangkan, mengingat kondisi yang penuh dengan penetrasi internet di Indonesia. Disamping loncatan kemajuan di bidang teknologi informasi, kepedulian masyarakat terhadap negaranya mulai dipertanyakan.

Generasi muda seharusnya lebih cerdas dan bijak dalam menyikapi kondisi zaman seperti sekarang ini. Sebagai pihak yang realitanya lebih dekat dengan kecanggihan teknologi informasi, peluang berharga seharusnya muncul. Teknologi harus bisa menjadi alat bagi anak- anak muda ikut berkontribusi membangun negara. Contoh kecil, seperti menggunakan produk- produk dalam negeri dalam kebutuhan sehari- hari. Tindakan ini memang jarang diperhatikan. Tetapi jika dapat terealisasi oleh dominan rakyat indonesia, terutama anak- anak muda dampaknya pasti akan terlihat.
Digitalisasi seperti menjadi anak kandung dari revolusi kecanggihan teknologi. Tantangan terbaru era millenial yaitu VUCA, keadaan yang penuh gejolak (Volatility), tidak pasti (Uncertainty), rumit (Complexity), dan serba kabur (Ambiguity). Akronim ini lebih terkenal dalam dunia bisnis. Gagasan “disruptif innovation” akhirnya muncul, yaitu cara untuk memikirkan perusahaan yang sukses, tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen saat ini, tetapi juga mengantisipasi kebutuhan mereka di masa depan. Pada intinya mengembangkan produk baru yang tak diduga pasar dan menciptakan konsumen berbeda untuk menggantikan pasar yang lama.
Gagasan seperti itu sangat baik untuk diterapkan. Mengingat SDA yang tersebar luas, peluang besar terbuka untuk meningkatkan perekonomian negara. Untuk menunjang keberhasilan itu, peningkatan kualitas intelektual dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) juga harus diperhatikan. Dulu Indonesia bisa dijajah karena satu hal yaitu tidak bisa berbahasa inggris. Keadaan yang lebih baik dalam berbagai aspek seperti pendidikan, perdagangan, pemerintahan, kerjasama bilateral maupun internasional sangat menunjang bagi generasi muda untuk berkembang dan berkontribusi untuk Negara.

Sektor- sektor besar seperti pertanian, industri, perikanan, pariwisata, energi terbarukan harus mulai dijarah oleh anak- anak muda. Generasi muda harus memiliki wawasan luas dan kapabilitas tinggi, agar dapat bersaing dalam skala besar. Selanjutnya pemerintah lah yang harus memperbesar kesempatan kerja, demi mempersiapkan bibit- bibit baru penggerak kemajuan negara.

Tidak dapat disangkal, di masa yang akan datang pun teknologi dapat menjadi acuan terhadap kemajuan dalam berbagai bidang. Tindakan yang tidak bermanfaat harus disudahi dan mulai menatap kedepan, mau dibawa kemana masa depan negara ini. Generasi muda menjadi tonggak yang pada akhirnya menentukan sebuah kesuksesan negara. Tantangan dan permasalahan pun akan lebih kompleks serta tunggang langgang mengikuti zaman.

Relasi Kuasa atas Pengetahuan
Hubungan antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Sebuah ide atau gagasan yang paling efektif pun tidak akan terealisasi tanpa adanya kuasa. Kuasa memberikan kebebasan kepada subjeknya untuk bertindak, tanpa ada batasan yang mengikat. Dampaknya sangat besar jika kuasa dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hubungan ini berlaku dalam berbagai aspek, tidak terkecuali masalah pemerintahan.

Contoh, ketika sebuah negara sedang menghadapi krisis ekonomi seperti inflasi maka yang bertanggung jawab untuk bertindak membuat solusi adalah pemerintah. Kebanyakan masyarakat faham, jika inflasi dapat diselesaikan dengan impor dan peningkatkan produksi produk. Tetapi jika pemerintah tidak bertindak dan merealisasikan solusinya, ide paling efektif dari masyarakat pasti sia- sia. Belum lagi mengenai permasalahan skala besar. Pemimpin menjadi pihak utama yang harus memanfaatkan celah demi kemajuan sebuah negara. Pemimpin dan pemerintah harus memberikan kefahaman dan kesadaran pentingnya ikut berkontribusi demi kemajuan negara. Generasi muda tidak hanya berinovasi, tetapi nantinya harus ikut memegang kuasa agar gagasannya dapat terealisasi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here