Melemahnya Nilai Tukar Rupiah dalam Perspektif Ekonomi-Politik

0
123

Abdul Rivai Ras, Pengajar Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia

JNOL – Saat ini, sejumlah masyarakat Indonesia bertanya-tanya, mengapa nilai rupiah kita terus melemah dan terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat (USD)? Bahkan, kini sudah melewati ambang batas psikologis yang menembus Rp 15.029 per USD, atau level terendah sejak krisis 1998, pada Selasa (4/9/18).

Untuk menjelaskan melemahnya nilai tukar rupiah, tidak hanya dapat dijawab dalam pendekatan ekonomi semata, apalagi hanya dalam konteks domestik. Tetapi, sesungguhnya dapat dikaji dalam perspektif ekonomi-politik global dan kepentingan strategis negara-negara besar.

Memahami Ekonomi-Politik Global

Dinamika ekonomi-politik global hari ini menjadi atensi dan digandrungi oleh para peneliti strategi karena pendekatan ini sangat peduli dengan cara memainkan instrumen kekuatan politik (negara, lembaga, individu) dalam membentuk sistem interaksi ekonomi dan efek yang yang ditimbulkannya, termasuk dalam kekuatan pasar kolektif dan individu baik secara internal maupun eksternal terhadap struktur politik.

Melemahnya rupiah tidak terlepas dari isu ‘ketergantungan’ secara ekonomi dan seputar isu globalisasi. Dalam konteks ekonomi-politik, kini dapat dilihat dari studi kasus ‘perang dagang’ antara AS dan Tiongkok.

Perang dagang kedua negara itu, pada dasarnya, memberi dampak dan sangat berisiko pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Di tingkat global, perang dagang ini pun dapat memicu pelemahan ekonomi dunia.

Esensi ekonomi-politik global dapat dipahami dalam lingkup perdagangan internasional (khususnya politik kesepakatan dagang dan hasil kesepakatan dagang), pembangunan internasional (kemiskinan dan peran lembaga dalam pembangunan), keuangan internasional, pasar global, risiko politik, kerja sama antarnegara dalam penyelesaian masalah ekonomi lintas perbatasan, dan keseimbangan kekuasaan struktural antarnegara dan antarlembaga yang saling terkait secara rumit.

Kekuasaan Ekonomi-Politik AS

Sejak kepemimpinan politik Presiden Donald Trump, sejumlah kebijakan AS mengalami perubahan besar, mulai dari kebijakan ekonomi-perpajakan hingga pada strategi politik mengenai masalah keamanan nasional yang melingkupi isu perbatasan AS dan kawasan Asia Tenggara, serta adanya isu negosiasi ulang atas Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara.

Dari kekuasaan politik Trump ini, tampaknya membawa perubahan positif bagi pasar saham AS yang mencapai rekor tertinggi dan ekonominya tumbuh lebih dari 4% karena diperkuat kebijakan pemotongan pajak yang disahkan oleh Kongres tahun lalu, termasuk adanya pemangkasan kebijakan-kebijakan yang telah dirintis oleh Presiden Obama.

Kini, strata ekonomi AS melambung tinggi dan berada di tingkat yang sangat kuat dibandingkan dengan negara-negara lainnya yang tergolong dalam lingkar ekonomi terbesar di dunia. Selain itu, The Federal Reserve AS juga mulai menaikkan tingkat suku bunga, setelah satu dekade tetap menjaga agar diterapkan serendah mungkin.

Fakta menguatnya pasar AS, yang disinkronisasikan dengan peningkatan suku bunga, menstimulasi bagi investor yang memiliki dana besar untuk menanamkan uangnya ke negara yang dinilai pertumbuhannya cukup tinggi.

Secara ekonomi-politik, aliran dana investasi ke AS menjadi landasan terhadap meningkatnya nilai dolar AS dan menjadikan AS sebagai tujuan yang lebih menarik bagi investor global. Hal ini sekaligus mengubah tatanan ekonomi dunia yang berdampak ke seluruh negara, baik di sejumlah negara maju maupun negara yang tergolong emerging market, termasuk Indonesia.

Hal ini sekaligus mengubah tatanan ekonomi dunia yang berdampak ke seluruh negara, baik di sejumlah negara maju maupun negara yang tergolong emerging market, termasuk Indonesia.

– –

Gejolak Lingkungan Ekonomi Global

Mencermati melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlepas dari adanya efek penularan (contagion effect) dari gejolak lingkungan ekonomi global. Situasi ekonomi yang masih menantang ini diperkirakan dapat memberikan dampak negatif terhadap negara-negara berkembang, khususnya Indonesia hingga memasuki tahun politik pada 2019.

Kebiijakan normalisasi moneter dan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve atau kerap disebut The Fed (Bank Sentral AS), serta perang dagang dengan Tiongkok dipastikan akan berimbas negatif pada banyak negara, termasuk negara berkembang.

Beberapa negara yang memiliki fondasi ekonomi rentan serta mempunyai kebijakan ekonomi tidak konsisten dengan fundamental ekonomi juga telah mengalami krisis, seperti Turki, Argentina, hingga Venezuela.

Melemahnya nilai tukar seperti rupiah kembali terjadi, sebenarnya diawali saat Turki mengalami krisis ekonomi pada akhir Agustus 2018.

– –

Melemahnya nilai tukar seperti rupiah kembali terjadi, sebenarnya diawali saat Turki mengalami krisis ekonomi pada akhir Agustus 2018. Sejumlah nilai mata uang negara-negara berkembang di seluruh dunia telah mengalami penurunan dan para investor asing mulai menarik diri.

Kecenderungan melemahnya mata uang ini menular mulai dari Afrika Selatan hingga Indonesia. Bahkan Argentina, yang mulai stabil setelah krisis pada awal Januari, kembali mengalami guncangan ekonomi yang kini berada pada mode darurat dengan meningkatnya suku bunga menjadi 60%. Demikian halnya mata uang peso juga merosot 45% pada 2018 dan anjlok lagi 24% pada awal September ini.

Fenomena kondisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pada dasarnya tidak hanya dapat dilihat dari sisi kondisi domestik yang mencakup adanya kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik untuk kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri, dan dividen yang terus meningkat, serta dampak tensi politik terkait dengan pemilu menjelang pilpres 2019. Tetapi juga didorong dan ditentukan oleh dampak dinamika ekonomi-politik global.

Mewaspadai Risiko Lanjutan

Gejala potensi semakin merosotnya nilai tukar rupiah tampaknya akan mendorong gejolak ekonom dan politik nasional. Oleh karena itu, pemerintah dan elemen masyarakat yang memiliki otoritas harus terus memantau dan mewaspadai risiko berlanjutnya kecenderungan pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu oleh gejolak global maupun kondisi domestik.

Gejolak global yang dimaksud, yaitu dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-Tiongkok, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham Indonesia.

Sebagai catatan penting yang harus menjadi atensi, rencana kenaikan suku bunga The Fed yang oleh sejumlah pelaku pasar diperkirakan akan lebih agresif.

Prediksi tersebut didasarkan pada perekonomian AS yang semakin membaik sehingga pelaku pasar memperkirakan The Fed kemungkinan masih akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali atau tiga kali lagi ke depan dan semakin memperburuk nilai tukar rupiah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here