130 Karyawan STC Ditangkap, Mantan Danjen Kopassus Kecam Polres Kotabaru

0
902

JNOL, Banjarmasin – Direktur Utama PT Sebuku Tanjung Coal (STC) Soenarko mengecam sikap aparat Polres Kotabaru yang mengakut 130 karyawan PT Sebuku Tanjung Coal, Kamis (19/8) di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Menurut Soenarko, penangkapan karyawannya itu tidak memiliki dasar hukum dan tindakan pelanggaran Hak Azasi Manusia.

“Karyawan saya menjaga areal lahan yang sudah lama kami bebaskan, kemudian ada yang mengklaim dan melakukan land clearing dengan buldozer tanpa ada alas hukum yang jelas. Lalu karyawan kami menghentikan land clearing itu. Nah, kemudian puluhan preman mendatangi karyawan kami dengan menggunakan senjata tajam. Kami menambah petugas keamanan, kenapa karyawan kami yang dibawa ke Polres. Ini maksudnya apa,” kata Soenarko dalam rilisnya kepada wartawan, Kamis (19/7).

Mantan Danjen Kopassus itu mengecam keras sikap aparat Polres Kotabaru yang bersikap memihak kepada kelompok penyerobot lahan milik PT Sebuku Tanjung Coal. Apalagi, imbuh dia, dengan mengerahkan ratusan polisi bersenjata lengkap memasuki areal perusahaan.

“Ada ratusan polisi mendatangi areal perusahaan kami, seolah-olah ada perang saja. Kemudian mengangkut beberapa petugas kami. Ini kan bentuk keberpihakan aparat kepada pihak yang jelas-jelas merampas areal milik PT Sebuku Tanjung Coal,” tegasnya.

Menurut Soenarko, sikap para oknum Polres Kotabaru ini seolah menjadi pihak yang mendukung perampasan lahan. Sebab, sehari sebelumnya, mengundang proses mediasi di Kantor Kapolres.

“Saat pertemuan ini, PT Sebuku Grup memaparkan proses pembelian lahan dari warga yang sudah berlangsung lama. Wilayah itu pula merupakan areal konsesi Izin Usaha Pertambangan (IUP) batubara. Sementara mereka yang mengklaim tidak menunjukan surat-surat yang benar. Kok sehari kemudian karyawan kami ditangkapi,” kata mantan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda Aceh ini.

Penangkapan yang dilakukan aparat, imbuh dia, pada saat karyawan sudah mundur 300 meter dari area lokasi yang dipersengkatan.

“Area lahan yang dipersengketakan sudah kosong, karyawan kami mundur sekitar 300 meter dan masih berada di areal STC. Tapi tetap ditangkap dan diangkut ke Polres,” tegasnya.

Ditambahkan, aparat kepolisian Kotabaru berpihak pada PT MSAM. Sedangkan jalan hauling yang diduduki preman PT MSAM sudah sebulan lebih dilaporkan PT Sebuku Grup malah tidak mendapatkan tanggapan.

“Saya gak habis pikir, apakah aparat di Polres Kotabaru ini milik bagian dari Kepolisian Republik Indonesia. Sehingga hanya PT MSAM saja yang laporannya diproses, sedangkan laporan kami tidak diproses,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here