Seminar Dies Natalis GMKI Ke 68, Pancasila Hubungan Antar Agama, dan Revolusi Industri Ke-4”

JejakNasionalis, Jakarta – Zaman now ini banyak pengangguran karena adanya dunia yang digital yang begitu hebat dimana kekacauan yang meruntuhkan kita.Banyak orang melihat orang tidak mempersiapkan diri dari berbagai kontruksi dimana banyak waktu yang terbuang adanya perubahan setiap 30 detik orang bunuh diri dan tiba-tiba dia membuang waktu dengan kehidupan yang realistis.

Penutupan Dies Natalis ke-68 GMKI, Seminar Nasional “Pancasila, Hubungan Antar Agama, dan Revolusi Industri Ke-4”.Bertempat di Grha Oikoumene PGI-GMKI Lantai 5, Jl. Salemba Raya No.10, Jakarta Pusat. (16/3)

Prof. Jimly Asshiddiqie (Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) menerangkan, ” Kita hidup di tengah-tengah di kehidupan didunia sangat cepat berkembang.Kita masih ada persoalan diri dengan mengontrol digital melalui sosial media “. ujar Prof Jimly.

Artinya kita menggunakan berita-berita kebohongan (Hoax) sampai menbawah agama,untuk kepentingan bisnis dan kita terpecah belah dengan adanya komplit-komplit antara agama.

Dengan teknologi kita bisa berkembang dengan cepat dan bangsa-bangsa lain.Betapa gagahnya ummatnya,kalau ini akan berlanjut terus maka ini akan seperti negara timur tengah.

Kita mempunyai kontes pancasila,
persoalan yang kita kembangkan bagaimana harus kita memiliki kekuatan dengan nilai-nilai pancasila.Ada lima sila dalam pancasila sila pertama ketuhanan yang maha esa,ada yang salah dalam ke agamaan kita,bahwa dalam kontes kita sangat egois baik perorangan maupun kelompok.

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab,kita harus bedakan partai komunis dan partai non komunis,kita tidak bisa benci karena mereka saudara kita.Dan sila terakhir Gagasan mengenai pancasila sebagai ideologi terbukamulai berkembang sejak tahun 1985. tetapi semangatnya sudah tumbuh sejak Pancasila itu sendiri ditetapkan sebagai dasar Negara (Emran, 1994:38).

Sebagai ideologi, Pancasila menjadi pedoman dan acuan kita dalam menjalankan aktivitas di segala bidang, sehingga sifatnya harus terbuka, luwes dan fleksibel dan tidak tertutup, kaku yang akan membuatnya ketinggalan zaman. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Alfian, Pancasila telah memenuhi syarat sebagai ideologi terbuka. Hal ini dibuktikan dari adanya sifat-sifat yang melekat pada Pancasila maupun kekuatan yang terkandung di dalamnya, yaitu pemenuhan persyaratan kualitas tiga dimensi.

Adapun Pembicara:
– Prof Sri Adiningsih (Ketua Dewan Pertimbangan Presiden)
– Letjend TNI (Purn) Agus Widjojo (Gubernur Lemhanas)
– Pdt. Albertus Patty (Ketua MPH Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia)
– Baktinendra Prawiro (Ketua Umum DPP Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia)

Yaqut Cholil Qumas (Ketua Umum GP Ansor) Mengatakan, Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Pancasila merupakan ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembagan jaman tanpa pengubahan nilai dasarnya. Ini bukan berarti bahwa nilai dasar Pancasila dapat diubah dengan nilai dasar yang lain yang sama artinya dengan meniadakan Pancasila atau meniadakan identitas/jati diri bangsa Indonesia.

Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung makna bahwa nilai-nilai dasar Pancasila itu dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri. (MI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *