Arkeolog Jumpai Temuan Langka di Situs Lamuri

JejakNasionalis, Banda Aceh – ekskavasi di situs Lamuri yang dilakukan oleh tim asal Aceh dan Malaysia telah selesai pada hari Kamis, 15 Maret 2018. Lokasi penggalian terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Umumnya, temuan dari hasil penggalian adalah keramik dan tembikar dalam keadaan pecahan-pecahan kecil. Dari hasil analisis, artefak tersebut telah berumur lebih kurang 700 tahun lalu. Jum’at (16/3)

Dilansir media online Jejaknasionalis, Salah satu temuan penting adalah mangkuk yang dibuat dari keramik. Ketika ditemukan posisinya terbalik dan masih utuh. Keramik ini ditemukan pada kedalaman 50 cm di bawah tanah. Dari hasil analisis diketahui keramik ini diproduksi dari Vietnam pada abad ke-14 dan 15 Masehi kata Husaini Ibrahim selaku ketua tim ekskavasi.

Dia menambahkan bahwa selain keramik Vietnam, keramik China yang diproduksi pada masa Dinasti Song Selatan dan Yuan abad ke-13 Masehi juga dijumpai ketika penggalian. Kemudian, tembikar dari Asia Selatan juga dijumpai yang diduga berasal dari periode yang sama. Umumnya, keramik dan tembikar ditemukan dalam keadaan pecahan-pecahan kecil. Ada yang bisa direkonstruksi dan ada yang tidak bisa direkonstruksi bentuknya.

Ini adalah temuan pertama keramik insitu dari situs Lamuri, barang kali juga di Aceh. Semua data dari hasil penggalian dapat kita pertanggung jawabkan karena ini adalah ekskavasi berstandar internasional. Semua data direcord secara sistemasis kata arkeolog asal Universitas Syiah Kuala tersebut.

Husaini mengatakan “Kita selama ini hanya mengatakan bahwa Lamreh adalah pusat kerajaan Lamuri. Namun tidak memiliki bukti kuat. Kini kita menjumpai keramik insitu dari hasil penggalian yang menegaskan bahwa di Lamreh-lah pusat Kerajaan Lamuri. Pernyataan ini juga dipertegas oleh temuan ratusan batu nisan di situs ini yang diperkirakan milik raja-raja Lamuri”.
Temuan ini menjadi sumber utama bahwa Aceh di bawah kerajaan Lamuri telah menjalin hubungan bilateral dengan negara-negara luar seperti Cina, Vietnam, Thailand, India dan juga negeri-negeri Arab sejak ratusan tahun dahulu. Ribuan pecahan keramik yang tersebar di atas permukaan tanah memberi gambaran betapa besarnya perdagangan yang telah wujud di Lamreh pada abad ke-13 sampai 15 Masehi.

Husaini menambahkan, kita berharap suatu saat nanti pemerintah dapat menetapkan Lamreh sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Situs ini tidak hanya sebagai bukti sejarah semata, juga sebagai jati diri bangsa Aceh. Bahwa Aceh telah menjalin hubungan baik dengan berbagai negara luar sejak seribu tahun terakhir. [Noval/My]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *