Nusantara dan Nuswantara Damai Resolusi Say No To Konflik

Menurut Orasi Kebangsaan Gus Nuril (KH. Nuril Arifin), Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan
Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Nusa sendiri sering diartikan dengan pulau atau kepulauan, penamaan dari leluhur kita dahulu dalam bahasa sansekerta, sedang dalam bahasa sansekerta dengan peradaban yang lebih lama, istilah Nusa disebut dengan Nuswa. Nusantara] adalah gabungan dari dua kata, Nuswa atau Nusa, dan Antara.

Nuswa sendiri dalam
bahasa sansekerta kuno mempunyai arti “sebuah tempat yang dapat ditinggali”, jadi tidak disebutkan
secara jelas bahwa itu adalah pulau. Seharusnya kita membuka mata dan pikiran lebar-lebar untuk
memaknai ‘sebuah tempat yang dapat ditinggali’ adalah tidak terbatas hanya di daratan yang ada dimuka bumi ini; lautan, dasar laut, tempat di luar bumi atau bahkan tempat di luar galaksi kita-pun adalah tempat yang dapat ditinggali.
Dalam beberapa serat kuno-pun pernah tertera kata ‘Antariksa’ yang menandakan bahwa sesuatu
jangkauan yang jauh dari letak bumi-pun sudah dikenal oleh para leluhur Nuswantara.

Menurut Sastra-Jendra [catatan alam raya], leluhur kita membahasakan ‘Bumi’ dengan nama ‘Arcapada’ dan tempat kita hidup di atas bumi itu yang dinamakan lapisan bumi pertama atau Eka Pratala, dan semuanya terdapat 7 lapisan sampai ke Sapta Pratala [inti bumi atau magma bumi]. Di luar Arcapada, tertera nama Dirgantara yang maknanya adalah lapisan sejauh burung dapat terbang paling
tinggi, kemudian terdapat Angkasa yang maknanya adalah lapisan dari atas Dirgantara sampai ke batas
atmosfir paling tinggi, dan di luar atmosfir itulah yang disebut dengan Antariksa.

” Konsepsi dari Nuswantara sendiri adalah sebuah kesatuan wilayah yang dipimpin oleh suatu
pemerintahan [kerajaan] secara absolut “. Ujar Gus Nuril disesi akhir diskusi di Aula Sakinah, Mesjid Sunda Kelapa, Menteng. Jakarta. Dengan mengharap Ridho ALLAH SWT & Syafaat Rosulullah. SAW

Gus Nuril turut membacakan ikrar Perdamaian, bebas Konflik dalam tausiah kebangsaan serta Demi terciptanya suasana keagamaan di Indonesia dengan aman. damai, tentram dan kondusif, terlebih di lingkungan Masjid. maka kami perwakilan Takmir Masjid Se-Jabodetabek, dengan semangat Hubbul Wathon Minal Iman. Mendeklarasikan :

Berikut Isi 5 KESEPAKATAN CEGAH POLITISASI MASJID Dengan :

1. Mencegah oknum yang memfungsikan Masjid dari unsur Politik praktis.

2. Mengutamakan fungsi Masjid untuk tempat beribadah kepada Allah Ta’ala.

3. Menjadikan Masjid sebagai sarana untuk mempersatukan umat, bukan dijadikan sarana memecah belah umat dan memperuncing perbedaan.

4. Menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadikan mimbar-mimbar Masjid sebagai media untuk menyampaikan dakwah atauajakan menjalankan ajaran agama secara sejuk dan damai, menerima perbedaan dan saling menjunjung toleransi, bukan caci maki, ujaran kebencian dan ajakan permusuhan.

5. Mencegah masuknya Khotib & penceramah Masjid yg berpaham radikal, takfiri, ujaran kebencian. intoleran dan anti Pancasila.

Kesatuan dari Nuswantara sangat disegani, dihormati dan ditakuti oleh negara-negara lain pada jaman
dahulu. Ia juga mengatakan, dengan banyaknya jumlah peradaban umat Islam yang semakin meningkat menyebabkan banyaknya perbedaan yang bermunculan. Menurutnya, umat Islam di Indonesia ada sebanyak 180 juta jiwa dan di antara jumlah itu hanya belajar tentang ilmu syariat saja. Padahal, baginya, belajar syariat ini hanya di putaran definisi saja.

Ia mencontohkan kopi di dalam gelas, yang kata sebagian orang jika diminum membuat orang tidak mengantuk. Ada juga yang menafsirkan lain, bahwa kopi membuat perut perih. “Akhirnya orang ribut soal kopi, soal definisi kopi. Itu saja yang menjadi perselisihan. Ini yang disebut asma (nama-nama),” terangnya.

Resolusi Nusantara No Konflik

Pancasila sebagai Falsafah Ideologi Negara. Ideologi bangsa yang telah bertahan selama lebih dari 72 Tahun yang dicetus oleh Bapak bangsa Sukarno. Saat itu, Konflik rakyat masih tumpang tindik dan masih di sekat oleh ketakutan perbudakan Pasca penjajahan Nusantara ” Kolonial ” . Jadi, Memasuki era sekarang Konflik terus bermunculan karena anak bangsa ini, penerus bangsa ini tidak benar benar meresap Isi Pancasilanya.

Mungkin saja tanpa pancasila, Abad 21 ini konflik bukan dalam bentuk kebangsaan. tetapi Konflik antara wilayah dan belum tentu akur seperti Perihal Isi Bhinnekka Tunggal Ika. Untuk mendapat kedamaian adalah implementasikan dalam hidup kerukunan umat beragama dan bangsa seluruh Indonesia. [ 16/03]

Muhammad Ichsan. S.Pd

– Alumni Universitas Syiah Kuala

– Pegiat Sejarah Militer Kebangsaan dan Damai Resolusi Konflik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *