Para Santri, Ulama, Dan Tokoh Agama Darurat Terjun Ke Dunia Politik, Jangan Hanya Jadi Penonton

Oleh: Prof. Yusril Ihza Mahendra

Guru Besar Hukum sekaligus Ketum PBB (Partai Bulan Bintang) Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc. mengajak para Alim Ulama, Tokoh² Pesantren, para Kyai dan para Santri, untuk kini terjun berpolitik, dan tidak alergi terhadap politik.

“Para ulama, para santri, tokoh – tokoh pesantren & ummat Islam di Indonesia janganlah jadi penonton dan/atau tamu di rumah sendiri,”

Ulama, santri & para tokoh agama harus terjun ke dunia politik untuk meraih kekuasaan karena jika tidak umat Islam akan dipimpin oleh non muslim atau muslim yg munafik/fasik yang tidak bertanggung jawab (tidak amanah).

“Perjuangan para kyai, para santri, para da’i dan para ulama, jangan hanya berhenti di lingkungan pesantren saja, tapi harus menembus gedung parlemen dan pemerintahan.

Realisasikan isi kitab dan hukum-hukum islam yang dikaji dipesantren itu menjadi pengganti hukum-hukum kapitalis yg dibuat oleh kaum sekuler fasik munafik yang tidak bertanggung jawab.

Rubah hukum positif yang berlaku di Indonesia dengan hukum-hukum yang dipelajari di kitab-kitab kuning pesantren.

“Proses transformasi dari Hukum Syariah ke Hukum Positif itu hanya bisa ditempuh melalui parlemen, hanya bisa direalisasikan jika kita punya “politic power” (kekuatan politik).

Kalau kita tidak punya kekuatan politik, maka isi dan ajaran kitab kuning hanya akan berhenti di halaman pesantren dan majlis ilmu kecil saja.

Harus rebut parlemen dan pemerintahan. Karena umat islam saat ini sudah darurat Umaro’ yang jujur dan adil.

Ingatlah pesan tokoh Islam “Dr. Mohammad Natsir” kepada kita:

Umat islam jangan alergi dengan politik, umat islam harus berpolitik, karena dengan cara itulah kita bisa memperjuangkan dakwah islam diranah paling besar yaitu parlemen. Yaitu dengan cara memasukkan hukum-hukum Islam untuk keselamatan dan kesejahteraan Bangsa.

“semoga kita umat islam sadar dan segera bangkit merebut hak kita” Aamiin.

Note sejarah

Dr. Muhammad Natsir adalah tokoh Islam yg pernah menjabat menjadi Menteri Penerangan di zaman Pemerintahan Kabinet Syahrir.

Dan juga pernah menjabat selaku Perdana Menteri pada awal-awal Pemerintahan Republik Indonesia tahun 1950.

Saat beliau menjabat menteri penerangan, Usai shalat jumat, wartawan mengerumuninya dan melontarkan pertanyaan “kenapa Bapak ikut berpolitik dan mau menjabat sebagai Menteri”? Bukankah Bapak seorang tokoh panutan Islam?

Dr. Mohammad Natsir dengan tegas menjawab, Politik dan Jabatan ini adalah kendaraan dakwah saya untuk merubah hukum-hukum sekuler kapitalis menjadi hukum-hukum Islam; untuk menyelamatkan bangsa ini dari kaki tangan jahat pemerintah yang tidak amanah. (MI/rls/Progresif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *